Akhir-akhir ini sedang terjadi sebuah booming mengenai ‘sedekah
ajaib’ yang sering digiatkan oleh seorang ustad ‘anu’. Menurut cak nun, “Sedekah itu dalam rangka bersyukur, berbagi rejeki bukan
dalam rangka mencari rejeki. Kalau Anda mengharapkan kembalian
berlipat-lipat dari sedekah, itu bukan sedekah, tapi dagang!”. Beliau
tidak mengecam juga, lha wong taraf imannya masih segitu kok.
Kalau menyedekahkan uang, sepeda motor,
mobil, rumah, helikopter atau apa pun..kasih saja..titik! Setelah itu
jangan berharap apa-apa. Walau kita yakin akan dibalas dengan berlipat
ganda tapi ketidaktepatan dalam niat menjadikan sedekah bukan lagi
sedekah, melainkan sekedar jual beli. Sedekahnya sudah bagus tapi janji
Tuhan jangan dijanjikan oleh manusia..!
Banyak orang beribadah yang masih salah
niat. Naik haji biar dagangannya lebih laris. Shalat Duha biar diterima
jadi PNS. Ibadah itu dalam rangka bersyukur..titik!. Menangislah pada
Tuhan tapi bukan berarti jadi cengeng. Nabi dalam shalatnya menangis
tapi sebenarnya itu adalah menangisi. Beda antara menangis dan
menangisi. Kalau menangis itu kecenderungan untuk dirinya tapi kalau
menangisi itu untuk selain dirinya : orang tua, anak, istri, saudara,
sahabat dan seterusnya.
Ada seorang pedagang miskin yang
daganganya nggak laku, dia sabar dan ikhlas : “kalau memang saya
pantasnya miskin, dagangan saya nggak laku..saya ikhlas..manut…yang
penting Tuhan ridha sama saya.” Malah keikhlasan seperti ini yang
langsung dijawab oleh Tuhan dengan rejeki berlimpah yang tak
disangka-sangka datangnya.
Tapi kalau kita yang ditimpa sial,
dagangan nggak laku, biasanya langsung mewek : “Ya Tuhan kenapa saya kok
miskin, dagangan nggak laku, gak iso tuku montor….aku salah opo
se..!???” Waaahh…malaikat langsung gregetan, njundul raimu :
“Ohhh..cengeng koen iku!!!”
Iman seseorang memang tidak bisa
distandarisasi. Tiap orang mempunyai kapasitas iman yang berbeda .
Makanya kalau jadi imam harus paham makmumnya. Makmumnya koboi tapi
bacaan imamnya panjang-panjang disamakan dengan anak pesantren. Akhire
makmumnya nggerundel, gak ihklas , “matane…!”
Cak Nun mengingatkan, usahakan berbuat
baik jangan sampai orang tahu. Kalau bisa jangan sampai orang tahu kalau
kita shalat. Lebih ekstrim lagi, jangan sampai Tuhan tahu kalau kita
shalat (walau itu nggak mungkin). Pokoknya lakukan saja apa yang
diperintahkan dan jauhi yang dilarang-Nya..titik!. Itu adalah sebuah
bentuk keikhlasan, tanpa pamrih yang luar biasa. Sudah suwung, sudah
nggak perduli dengan iming-iming imbalan pahala, yang penting Tuhan
ridha, nggak marah sama kita.
Motong rambut atau kuku nggak harus
nunggu hari Jum’at. Mau kenthu aja kok ya harus nunggu malam Jum’at.
Itulah kita, tarafnya masih kemaruk pahala. Nggak ada pahala, nggak
ibadah. Ini jangan diartikan meremehkan Sunnah Rasul. Pikiren dewe..
“Surga itu nggak penting..!” kata Cak
Nun suatu kali. Tuhan memberi bias yang bernama surga dan neraka. Tapi
kebanyakan manusia kepincut pada surga. Akhirnya mereka beribadah tidak
fokus kepada Tuhan. Kebanyakan kita beribadah karena ingin surga dan
takut pada neraka. Kelak kalau kita berada di surga, bakalan dicueki
oleh Tuhan. Karena cuma mencari surga nggak mencari Tuhan. Kalau kita
mencari surga belum tentu mendapatkan Tuhan. Tapi kalau kita mencari
Tuhan otomatis mendapatkan surga. Kalau nggak dikasih surga, terus kita
kost dimana???
“Cukup sudah, jangan nambah file di
kepalamu tentang surga dan neraka..fokuskan dirimu pada Tuhan. Karena
sebenarnya orang yang berada di surga adalah orang yang mencari Tuhan.
Dzat yang sangat layak dicintai di atas segala makhluk dan alam
semesta…” kata Cak Nun.
Mbok yo jangan kau tumbalkan kesemua itu demi kepentingan perut dan keluargamu.
Tuhan tidak butuh tumbal dan “sesaji” darimu…
mak jleb ning ati.
Repost from embunhikmah